MOHAMAD Ikhsan menangkap momen tak biasa ketika sedang berjalan kaki di sekitar perumahannya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat, 8 Mei 2026. Pagi itu, ia mendapati sebuah spanduk tergantung di sebuah rumah dengan tulisan “Lokasi ini sedang disiapkan sebagai dapur makan bergizi gratis”.
Padahal, sepengetahuan Ikhsan, rumah tersebut selama dua tahun hendak dijual, tapi tak laku. Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu menduga si pemilik rumah menyewakan atau menjadikan bangunan tersebut untuk dapur proyek MBG. Lokasi rumah itu berada di dalam perumahan.
Ikhsan menuturkan, spanduk rumah sempat berubah saat pemerintah berencana mengurangi jumlah dapur MBG untuk menyesuaikan fiskal dampak kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Di rumah itu terpasang spanduk “Rumah dan tanah siap dijual”. Belakangan, rumah tersebut kembali berubah menjadi dapur MBG. “Saya melihat perubahan kebijakan pemerintah dari kasus dapur MBG di dekat rumah saya,” kata Ikhsan, Jumat, 29 Mei 2026.
Fenomena kebijakan yang berubah setiap saat membuat investor tidak percaya kepada pemerintah. Akibatnya, investor tak mau menanamkan “dolar” di Indonesia. Walhasil, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat jeblok. Per Selasa pagi, 1 Juni 2026, nilai tukar rupiah hampir 17.900 per dolar AS—terlemah sepanjang sejarah.
Kepada wartawan Tempo, Erwan Hermawan, Friski Riana, Yosea Arga, dan fotografer Tony Hartawan, Ikhsan menjelaskan pokok persoalan kondisi perekonomian saat ini. Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian periode 2004-2009 ini mengatakan, Indonesia belum mengalami krisis seperti 1997-1998. Namun, kata dia, alih-alih menjauhi krisis, pemerintah justru mendekati jurang krisis dengan pelbagai kebijakannya.
Menurut dia, pemerintah memiliki banyak keran untuk memperbaiki kondisi perekonomian. Misalnya memotong anggaran proyek MBG dan koperasi desa merah putih secara signifikan. Pria kelahiran Sigli, Aceh, itu juga menyoroti soal penegak hukum yang dijadikan alat kekuasaan sehingga membuat investor ketakutan.
Ikhsan juga ragu akan kevalidan data pertumbuhan ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik perihal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026. Wawancara dengan Ikhsan dapat dibaca dalam artikel berjudul “Indonesia Makin Mendekati Jurang Krisis Ekonomi“. ●
Source: Tempo.co.id






