spot_img
spot_img

TV LENTERA

― Advertisement ―

spot_img
spot_img

Semua Rezim Punya Panggilan untuk Pengkritik

Penelusuran Tempo menunjukkan bagaimana orang asing mempengaruhi kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

spot_imgspot_img


PADA pertengahan periode kedua Joko Widodo, saya kebetulan bertemu dengan teman yang jarang bersua. Kami pun ngobrol ke sana-kemari.

Tiba-tiba, dengan nada sedikit sinis, dia nanya tapi menuduh. Sudah tapi belum. Halah. “Kenapa Tempo sekarang kadrun?”

Teman lain yang menjadi sahibulbait langsung menatap saya—kode supaya saya enggak kepancingHe knows me so well. Tapi, sorry Bray, ini soal harga diri.

Hari keberuntungan. Ketemu pendukung pemerintah yang enggak pernah baca, menghakimi lawan bicara, kantor tempat saya bekerja pula. Orang kek gini kadang-kadang perlu dirujak.

Dari pernyataannya, saya tahu bahwa ilmunya masih cetek. Kenapa? Ya enggak baca Tempo. Kalau baca, pasti dia enggak akan ngomong gitu. Ya, kan?

Kelasnya pasti beda sama pembaca Tempo, tahu seperti apa kerja jurnalistik kami dan fakta yang kami sajikan saban pekan. Ilmunya tinggi. Minimal enggak gampang dibegoin.

Mulailah saya keramasin dia. Kami berdebat. Tapi ya, seperti dugaan saya, dia cuma bisa memfitnah. Akibat jadi pendukung buta. Ngomong enggak pakai data.

Dia bahkan enggak bisa menjawab pertanyaan saya, “Agama kita, paling enggak di KTP, sama, kan? Kok, bisa lu bilang gue kadrun?”

Saya batasi debat enggak sampai 30 menit. Buang waktu dan energi. Tapi cukup untuk menikmati rasanya menindas kaum penindas dengan cara terhormat.

“Kadrun” ataukadal gurun adalah sebutan buat pendukung Anies Baswedan. Julukan itu datang dari “cebong”—sebutan untuk pendukung Jokowi dari para kadrun—dan “kampret”, pendukung Prabowo Subianto.

Saya enggak marah dipanggil kadrun, cebong, atau kampret. Semuanya pernah saya rasakan sejak 2014. Jadi, kalau sekarang kami dijuluki sebagai antek asing, saya B aja.

Semua rezim pasti punya panggilan untuk para pengkritiknya. Saya cuma percaya, pada akhirnya, fakta akan terbuka. Siapa antek asing dan siapa yang mendapat manfaat darinya.

Tempo edisi pekan ini rasanya cukup menjawab. Bersama Desk Nasional serta Ekonomi dan Bisnis, kami menelusuri orang asing di sekitar Presiden Prabowo Subianto.

Kami mengungkap peran Karen Brooks, mantan petinggi Gedung Putih, dalam perubahan Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ceritanya, Brooks mau bikin bisnis wisata premium yang supermahal.

Brooks juga akan terjun dalam perdagangan karbon di kawasan konservasi itu. Dia ditengarai melobi Presiden dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni untuk memuluskan bisnisnya.

Mengejar jejak Brooks, kami mengirim Yosea Arga ke Taman Nasional Way Kambas. Ia “berlayar” dari Laut Jawa masuk ke zona inti taman nasional.

Pun kami mengejar soal peran Lucian Despoiu. Ia orang Rumania yang membantu pemenangan Prabowo dalam pemilihan presiden 2024. Despoiu pencipta jurus “gemoy”.

Anda bisa menikmati artikel kami soal orang asing di sekitar Presiden Prabowo dalam artikel berikut ini. Selamat membaca. ●

(Source: Tempo)

spot_img
spot_img