PADA 2017, saat kuliah di Universitas Jenderal Soedirman, Banyumas, Jawa Tengah, saya berkunjung ke Toko Buku ANS yang menjual buku dan majalah bekas. Di toko yang tak jauh dari kampus itu, saya menemukan majalah Tempo “Edisi Khusus 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika”. Sampulnya foto hitam-putih Presiden Sukarno dan delegasi Konferensi Asia-Afrika 1955 di tengah lautan massa.
Saya menukar majalah bekas itu dengan lembaran Rp 20 ribu, sekaligus jatah dua kali makan. Majalah itu masih ada di kamar saya hingga sekarang. Sebelum menjadi wartawan Tempo pada 2023—bukan karena lulus kelamaan, melainkan lantaran saya sempat bekerja di media lain selama tiga tahun—saya sudah menjadikannya sebagai salah satu koleksi berharga.
Tempo menyingkap berbagai cerita yang belum banyak ditulis seputar Konferensi Asia-Afrika. Misalnya kedatangan Perdana Menteri Cina Zhou Enlai yang diwarnai upaya pembunuhan terhadapnya. Tempo pun menelusuri dan mewawancarai saksi mata yang masih hidup. Salah satunya Jackson Leung yang mengalungkan bunga ke leher Zhou Enlai.
Ada juga artikel “Iuran Arisan untuk Hotel Swarha” yang mengulas bangunan jengki tempat seratusan wartawan menginap. Salah satunya Richard Wright, penulis ternama asal Amerika Serikat yang kemudian membuat buku Colour Curtain: A Report on the Bandung Conference.
Tujuh dekade lebih sudah berlalu. Banyak orang mungkin melupakan konferensi bangsa-bangsa Asia dan Afrika itu. Namun persoalan yang kita hadapi sampai saat ini masih sama, yaitu neokolonialisme dan neoimperialisme yang terus mencengkeram negara Dunia Ketiga. Salah satu ancaman yang datang adalah Amerika Serikat yang berupaya mencekik Iran setelah mengambil alih Venezuela.
Pada 21 April 2026, kami berkesempatan mewawancarai Direktur Eksekutif Tricontinental: Institute for Social Research Vijay Prashad. Sejarawan asal India itu dikenal kerap menyuarakan gerakan anti-imperialisme. Ia menulis buku The Darker Nations: A People’s History of the Third World. Isinya menjelaskan kehancuran solidaritas global selepas Konferensi Asia-Afrika.
Saya belum pernah bertemu dengan Prashad. Saya hanya membaca segelintir dari begitu banyak buku yang ia tulis. Salah satunya Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga. Buku ini membahas Revolusi Oktober 1917 di Rusia yang menjadi inspirasi perjuangan negara-negara terjajah dan Dunia Ketiga melawan imperialisme.
Mempersiapkan interviu dengan Prashad, saya membuka kembali majalah Tempo edisi lawas yang saya beli sembilan tahun lalu. Ia menjadi referensi untuk menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan kepadanya. Ternyata ada gunanya saya hanya makan satu kali dalam sehari untuk membeli majalah tersebut.
Dalam wawancara “Vijay Prashad: Indonesia Lahir dari Proses Pemerintahan Kolonial yang Kacau”, Anda bisa mengikuti kritik penganut Marxisme tersebut soal sikap Presiden Prabowo Subianto yang terkesan takut terhadap Amerika. Prashad juga menjelaskan pentingnya solidaritas global terhadap isu Palestina. Selamat membaca. ●
Source: Tempo






