spot_img
spot_img
KhazanahApakah Saya Saleh?

Apakah Saya Saleh?

Tiga hal bisa dilakukan untuk mengonfimasikan kesalehan seseorang.

- Advertisement -

LENTERA.CO.ID — Oleh Syamsul Yakin

Saleh adalah kata serapan dari bahasa Arab  yang berarti taat. Taat sendiri tak lain kata serapan dari bahasa Arab juga yang sudah dibakukan dalam bahasa Indonesia. Makna saleh yang paling pas adalah sungguh-sungguh beribadah, baik wajib maupun sunah. 

Dalam keseharian sering disebut  saleh ritual untuk mengatakan ketaatan beribadah kepada Allah seperti shalat dan saleh sosial yang maksudnya berbuat baik kepada sesama, seperti memberi makan orang yang sedang kelaparan.

Terkait soal ini, Abu Laits dalam Tanbihul Ghafilin mengutip pengakuan  Syaqiq al-Balkhi yang ditanya oleh seseorang. Ceritanya, orang itu bilang, “Publik menyebutku sebagai orang saleh. Menurutmu, bagaimana aku tahu kalau aku saleh atau tidak saleh?” 

Syaqiq yang memang  sebagai pengamal tasawuf menjawab, pertama, “Tampakkanlah amal yang kamu sembunyikan di hadapan orang-orang saleh. Apabila mereka  menyukai amal itu, maka ketahuilah bahwa kamu termasuk saleh, namun apabila tidak, kamu tidak saleh”.

Jawaban taktis-filosofis yang sangat elegan ini dapat dimaknai dengan dua hal. Pertama, apabila  amal  yang disembunyikan selama ini adalah kebaikan, kemudian diperlihatkan di hadapan orang-orang saleh  tentu hal ini akan membuat mereka suka. Misalnya ibadah wajib dan sunah yang tak diketahui orang. Termasuk ibadah sosial dengan cara sembunyi-sembunyi seperti memberi makan orang yang sedang kelaparan.

Kedua, apabila yang disembunyikan selama ini adalah amal yang penuh dosa, seperti berzina, berjudi, meminum khamar, dan amal munkarat lainnya lalu ditampakkan di hadapan orang-orang saleh, tentu mereka tidak menyukainya. Jadi sangat mudah untuk menjawab pertanyaan, apakah saya saleh? Silakan tampakkan amal yang Anda sembunyikan selama ini.

Kedua, menurut Syaqiq, ulama yang berguru kepada Imam Abu Hanifah dan Ibrahim bin Adham ini, untuk mengetahui apakah kamu saleh atau tidak, “Palingkanlah dunia dari hatimu, apabila hatimu bersedia menolak dunia, maka ketahuilah bahwa kamu saleh”. 

Jawaban kedua ini tidak hendak menganjurkan agar kaum Muslim menolak dunia serta isinya seperti harta dan tahta dalam kehidupan. Namun jawaban Syaqiq yang kedua ini mengajarkan agar hati manusia tidak lebih condong kepada dunia ketimbang akhirat.

Hati yang menolak dunia tidak harus menjadi miskin. Hati yang menolak dunia bisa jadi malah menjadi kaya. Sebab hati yang menolak dunia tidak  terkait dengan ada atau tidak adanya harta yang dimiliki, tapi terletak pada bagaimana memandang dunia sebagai amanah, untuk ibadah, dan harus didistribusikan kepada yang berhak menerimanya.

Ketiga, kata Syaqiq, ulama asketis yang wafat  pada 810 Masehi ini, agar kamu tahu dirimu saleh atau tidak, “Hadapkan kematian pada dirimu, apabila kamu mengharapkannya, maka ketahuilah bahwa kamu saleh. Namun apabila hatimu tidak berharap akan kematian yang bersifat pasti terjadi, maka kamu bukan orang saleh.”

Jawaban ketiga Syaqiq ini bukan agar kaum Muslim memilih kematian ketimbang kehidupan. Namun Syaqiq memberi petuah agar hati dipersiapkan untuk menerima kematian dengan banyak bertobat dan berbuat baik. 

Hati yang menerima kematian, sejalan dengan titah Allah, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. al-Nisaa/4: 78). Begitu juga ayat, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. al-A’raf/7: 34).

Sebenarnya orang yang menganggap dirinya saleh tanpa pernah mengonfirmasi dengan apa yang diungkap Syaqiq bisa dikatakan mengalami gangguan mental. Ketiga petuah Syaqiq di atas dapat juga dikatakan sebagai salah satu cara melakukan uji klinis-psikologis untuk membuktikan seseorang saleh atau tidak.

Sorce: https://www.republika.co.id/berita/rh0fly374/apakah-saya-saleh

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Oll Lates News

Mempersiapkan Husnul Khatimah

LENTERA.CO.ID -- Oleh Muhammad ChoirinSetiap manusia pasti akan melewati kematian....

Beda Orang yang Ingat Mati dan yang Lalai Mengingat Kematian

LENTERA.CO.ID -- Memperbanyak mengingat kematian berdampak positif bagi seseorang...

TERPOPULER

Perusahan tak Transparan dalam Pembayaran Royalti, Nuryadin:  Harus Dibentuk Pansus

LENTERA.CO.ID -- Anggota komisi III DPRD Halmahera Tengah, Nuryadin...

Komisi III DPRD Halteng Menanggapi Desakan LSM NorMA

LENTERA.CO.ID – LSM North Mollucas Advocation menyatakan, sejauh ini...

Saat Polisi-Jaksa Langgengkan Kriminalisasi

LENTERA.CO.ID -- Septandi Alfianto kaget saat menerima surat panggilan...

DPRD dan Pemda Halteng Didesak untuk Menindak PT. PPA

LENTERA.CO.ID – Menanggapi masalah tenaga kerja perusahaan, Direktur LSM...

DPC PDIP Halteng Buka Penjaringan Bakal Calon Legislatif, Target 8 Kursi

LENTERA.CO.ID – Menindaklanjuti Surat Dewan Pimpinan Pusat, Partai PDI...

Bharada RE Bertemu Sambo di Reka Adegan Pembunuhan Brigadir J

LENTERA.CO.ID -- Tersangka Bharada Richard Eliezer (RE) dipastikan hadir...

Peragakan 78 Adegan dalam Pembunuhan Brigadir J

LENTERA.CO.ID -- Rekonstruksi pembunuhan Brigadir Nofriansyah Hutabrat (J) akan...

Rusia akan Latihan Militer Bersama China dan Negara Sekutu

LENTERA.CO.ID -- Rusia akan menggelar latihan militer di timur...

Dorong Ekonomi Digital, Solusi Energi Luncurkan Metaverse MyVerse

LENTERA.CO.ID -- Saat ini Metaverse sedang menjadi topik hangat...

Sidang KEPP, Sambo Dipecat

LENTERA.CO.ID -- Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia...